Ilmu Dunia Akhirat

Berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman seputar ilmu dunia dan ilmu akhirat

Jumat, 13 Januari 2017

Aplikasi Penerapan Ilmu Kalam

Sesungguhnya orang-orang Islam pada periode pertama, mereka beriman kepada takdir baik dan buruk dan beriman bahwa sesungguhnya manusia itu diperintahkan melaksanakan perintah-perintah Allah. Iman mereka terhadap hal-hal tersebut adalah iman secara kuat, tanpa membahas secara mendalam dan tanpa memfilsafatkan pikirannya. Kemudian, datang orang-orang yang mengumpulkan ayat-ayat sekitar masalah tersebut dan memfilsafatkannya.

Di satu pihak, ada ayat-ayat yang menunjukkan adanya paksaan (presdestinasi) dalam pemberian tugas di luar kemampuan manusia Di lain pihak, banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa manusia bisa melakukan ikhtiar dan bertanggung jarvab terhadap perbuatannya (indeterministis). Ini juga difirmankan Allah swt, dalam Q. S Al-Isra Ayat 94, yang artinya :

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya, . . .

Ketika Rasulullah saw. telah wafat, beliau tidak menunjuk seorang pengganti dan tidak pula menentukan prosedur yang bisa dipergunakan dalam pemilihan khalifah. Sebagai bukti, golongan muhajirin dan golongan ansar berselisih pendapat dengan alasannya masing-masing.

Perselisihan politik yang telah diwarnai agama membarva mereka kepada perbedaan di dalam memberikan definisi tentang iman, kufur, dosa-dosa besar, dan dosa-dosa kecil, dan tentang hukum orang yang melakukan dosa besar. Setelah itu, mereka terbawa kepada perselisihan di bidang furuk sehingga tiap-tiap partai menjadi golongan yang berselisih di bidang usul dan furuk sepanjang zaman.

Pada sisi lain, para mutakalimin memiliki kepentingan terhadap filsafat dengan tujuan untuk menghadapi dan mengimbangi musuh-musuhnya yang menguasai fiisatat. Mutakalimin perlu mendebat mereka dengan mempergunakan alasan-alasan yang sama. Tuntutan ini kemudian mengharuskan mutakalimin untuk mempelajari filsafat yunani dalam mengambil manfaat ilmu logika, terutama dari segi ketuhanannyu. Kita mengetahui an-Nadham (tokoh Muktazilah) mempelajari filsafat Aristoteles dan menolak beberapa pendapatnya.

Tag : Aplikasi penerapan ilmu kalam, Ilmu Kalam

Related Posts
Disqus Comments